mathaijoseph – Pada Juni 2025, China untuk pertama kalinya sejak 1999 tidak membeli kedelai dari Amerika Serikat (AS) di awal musim ekspor. Menurut Bloomberg, langkah ini menandakan China kembali menggunakan komoditas pertanian sebagai alat tawar dalam perselisihan dagang dengan AS. Sebagai pembeli kedelai terbesar dunia, tindakan China ini berdampak signifikan pada pasar global.
“Baca Juga: GOTO Dapat Suntikan Dana Rp 4,65 T untuk Perluas Bisnis”
Pengaruh China dan Strategi Menahan Pembelian Kedelai AS
China pernah memakai strategi serupa saat perang dagang pertama di masa Presiden Donald Trump. Data dari Departemen Pertanian AS (USDA) menunjukkan bahwa hingga 11 September 2025, China belum memesan pengapalan kedelai AS sama sekali, sebuah fenomena yang belum pernah terjadi sejak pencatatan dimulai pada 1999. Padahal, pada tahun lalu AS menyumbang sekitar 20% impor kedelai China, dengan nilai mencapai lebih dari USD 12 miliar, lebih dari setengah total ekspor kedelai AS. Dengan stok dalam negeri cukup, China ingin menunjukkan kesabarannya dalam menggunakan komoditas sebagai alat negosiasi.
Dampak Terhadap Petani AS dan Respons Industri China
Strategi China menahan pembelian ini memukul harga kedelai di AS hingga sangat rendah. Petani AS, terutama di wilayah basis suara Trump, telah memperingatkan potensi krisis perdagangan dan keuangan. Mereka mendesak pemerintah mencabut tarif agar penjualan ke China bisa kembali meningkat. Saat ini, kedelai AS masih dikenai tarif lebih dari 20 persen oleh China. Sementara itu, di China, pabrik penggilingan kedelai dan produsen pakan telah mengamankan pasokan dari Brasil dan menggandakan stok. Pemerintah China juga menjaga cadangan nasional untuk kebutuhan jangka panjang.
Negosiasi Dagang dan Peran Kedelai dalam Konflik AS-China
Presiden Xi Jinping dijadwalkan berbicara dengan Donald Trump pada 19 September 2025. Pembicaraan ini berlangsung di tengah ketegangan akibat pembatasan ekspor semikonduktor dan logam tanah jarang. China bahkan menambah tekanan dengan mengumumkan investigasi pelanggaran antimonopoli terhadap Nvidia. Menurut analis pertanian Trivium China, Even Pay, strategi China terhadap kedelai mencerminkan perencanaan jangka panjang sejak perang dagang pertama. Selain kedelai, China juga mengurangi pembelian jagung, gandum, dan sorgum dari AS untuk mengurangi ketergantungan.
“Baca Juga: Demo Gratis Persona 3 Reload Kini Hadir di Nintendo Switch 2″
Risiko dan Prospek Masa Depan Pasokan Kedelai AS-China
Strategi China membawa risiko, terutama jika harga kedelai Brasil melonjak atau panen di Amerika Selatan terganggu. Hal ini dapat memaksa China menggunakan cadangan lebih cepat. Beberapa pelaku industri China menyatakan mereka baru mengamankan pasokan hingga bulan depan. Gelombang impor mendadak dari AS bisa mengguncang harga pakan dan strategi stok. Meski tarif tinggi, kedelai AS tetap pemasok paling efisien dan murah. Menurut Even Pay, semakin lama China menahan pembelian, semakin besar biaya yang harus ditanggung. Jika terjadi kesepakatan, permintaan China terhadap kedelai AS diprediksi akan kembali meningkat, karena masalah utama terletak pada perang dagang, bukan hilangnya permintaan.





Leave a Reply