mathaijoseph.com – Hyundai Motors Indonesia (HMID) membuka peluang menghadirkan Stargazer versi listrik ke pasar domestik. Langkah ini sejalan dengan tren elektrifikasi yang kian berkembang di industri otomotif nasional. Meski belum dipastikan jadwal peluncurannya, HMID menegaskan bahwa konversi Stargazer ke tenaga listrik tengah dikaji secara serius.
Tren Elektrifikasi Dorong Evaluasi Stargazer EV
Chief Operating Officer PT HMID, Fransiscus Soerjopranoto, menjelaskan bahwa perusahaan sedang mempertimbangkan penggunaan powertrain berbeda untuk lini kendaraan yang sudah ada. Hal ini termasuk opsi untuk menjadikan Hyundai Stargazer sebagai mobil listrik.
“Kami melihat tren elektrifikasi terus meningkat. Oleh karena itu, kami mempertimbangkan kemungkinan menawarkan varian powertrain berbeda,” ujar Frans saat menghadiri GIIAS 2025 di ICE BSD City, Tangerang, Rabu (6/8/2025).
Namun, ia menekankan bahwa keputusan ini harus disesuaikan dengan arahan dari prinsipal global Hyundai. Termasuk juga mempertimbangkan hasil riset dan pengembangan (R&D) yang sedang berjalan.
Hyundai Miliki Ekosistem EV Lengkap di Dalam Negeri
Hyundai saat ini telah memiliki kemampuan untuk memproduksi kendaraan listrik secara lokal. Pabrik mereka di Cikarang, Bekasi, menjadi salah satu pusat produksi EV pertama di Indonesia. Ekosistem yang lengkap—mulai dari produksi, baterai, hingga pengisian daya—mendukung langkah ini.
“Ini menjadi bagian dari kerja sama global kami. Kami sedang evaluasi apakah powertrain ini cocok dengan preferensi masyarakat Indonesia,” ungkap Fransiscus.
Tiga Powertrain Jadi Strategi Global Hyundai
Secara global, Hyundai menerapkan strategi multi-powertrain. Mereka memasarkan kendaraan dengan mesin pembakaran internal (ICE), mobil hybrid, dan mobil listrik murni. Bahkan, Hyundai juga mengembangkan teknologi kendaraan berbahan bakar hidrogen, yang masih menjadi fokus utama mereka di tingkat global.
“Dari prinsipal Hyundai, kami mengembangkan tiga jenis powertrain utama—ICE, hybrid, dan EV. Selain itu, kami juga menjadi yang terdepan dalam teknologi hidrogen,” jelas Frans.
Konsumen Indonesia Jadi Pertimbangan Utama
Frans menegaskan bahwa karakteristik konsumen lokal menjadi faktor penting dalam menentukan jenis powertrain yang akan dipasarkan. Oleh karena itu, keputusan menghadirkan Stargazer versi listrik masih dikaji dengan mempertimbangkan regulasi pemerintah serta dampak lingkungan.
“Untuk masuk ke satu negara, kami harus menyesuaikan powertrain-nya. Kami mempertimbangkan regulasi dan kontribusinya terhadap lingkungan,” ujarnya.
Langkah ini juga sejalan dengan upaya pemerintah Indonesia dalam mendorong percepatan transisi kendaraan listrik. Program seperti insentif pajak dan bantuan pembelian EV sudah berjalan, sehingga memberi peluang besar bagi Hyundai untuk memperluas lini produknya di segmen elektrifikasi.
Potensi Stargazer Listrik di Pasar Nasional
Stargazer sebagai mobil keluarga yang populer di segmen MPV dinilai cocok untuk versi listrik. Pasalnya, kebutuhan akan mobil ramah lingkungan kini meningkat, terutama di kalangan konsumen urban yang sadar akan emisi dan efisiensi bahan bakar.
Jika Stargazer EV benar-benar diwujudkan, ini akan memperluas pilihan mobil listrik terjangkau di Indonesia, menyusul kesuksesan Hyundai Ioniq 5 dan Kona EV.
“Baca Juga : Danantara Lunasi Utang Proyek Whoosh, Targetkan Rampung“
Kesimpulan
Meski belum ada kepastian resmi, Stargazer versi listrik menjadi salah satu opsi strategis yang tengah dikaji Hyundai Motors Indonesia. Dengan ekosistem EV yang sudah terbentuk di dalam negeri serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kendaraan ramah lingkungan, kemungkinan ini sangat terbuka.
Hyundai menegaskan bahwa keputusan akhir akan mengikuti arahan global, riset pasar, dan karakteristik konsumen lokal. Bila terwujud, Stargazer EV bisa menjadi game changer baru di segmen mobil listrik keluarga di Indonesia.
“Baca Juga : Danantara Lunasi Utang Proyek Whoosh, Targetkan Rampung“





Leave a Reply