mathaijoseph – Valve akhirnya mengumumkan harga resmi Steam Machine setelah berbulan-bulan menjadi bahan spekulasi di kalangan gamer. Pengumuman tersebut sekaligus mengonfirmasi kekhawatiran banyak pemain yang memperkirakan perangkat ini akan dijual dengan harga tinggi.
Steam Machine versi dasar dibanderol mulai US$1.049 atau sekitar Rp18,7 juta. Harga tersebut langsung memicu berbagai reaksi karena jauh lebih mahal dibandingkan sebagian besar konsol generasi terbaru yang tersedia di pasaran.
“Baca Juga: Sony Perkuat Strategi AI untuk Pengembangan PlayStation”
Perangkat ini diposisikan sebagai PC gaming untuk ruang keluarga yang menjalankan SteamOS. Meski menawarkan spesifikasi kelas atas, harga awalnya dinilai cukup berat bagi sebagian calon pembeli.
Pengumuman tersebut juga memperlihatkan tantangan yang kini dihadapi produsen perangkat keras akibat meningkatnya biaya komponen di pasar global.
Valve Hadirkan Empat Varian Steam Machine dengan Paket Berbeda
Valve menyediakan Steam Machine dalam empat konfigurasi berbeda yang disesuaikan dengan kapasitas penyimpanan dan paket aksesori. Model paling terjangkau menggunakan SSD NVMe berkapasitas 512GB.
Varian tersebut dijual seharga US$1.049 dan belum termasuk Steam Controller. Pengguna yang menginginkan paket lengkap harus memilih konfigurasi bundling seharga US$1.128.
Selain model dasar, Valve juga menawarkan Steam Machine dengan kapasitas penyimpanan 2TB. Versi tanpa Steam Controller dipasarkan dengan harga US$1.349.
Sementara itu, paket 2TB yang telah dilengkapi Steam Controller dijual seharga US$1.428. Seluruh konfigurasi tersebut diposisikan sebagai pilihan premium bagi pengguna yang menginginkan pengalaman bermain game PC melalui perangkat ringkas.
Keputusan memisahkan Steam Controller dari model dasar juga menjadi perhatian komunitas. Sebagian pemain menilai langkah tersebut membuat biaya kepemilikan Steam Machine menjadi semakin tinggi.
Steam Machine Dibekali Prosesor AMD Semi-Custom dan SteamOS 3
Untuk model 512GB, Valve membekali Steam Machine dengan prosesor semi-custom AMD Zen 4 yang memiliki enam inti dan dua belas thread. Perangkat ini juga menggunakan GPU semi-custom AMD RDNA 3 dengan 28 Compute Units.
Steam Machine dilengkapi memori utama 16GB DDR5 serta VRAM 8GB GDDR6. Kombinasi tersebut dirancang untuk menjalankan berbagai game modern melalui SteamOS 3.
Dari sisi penyimpanan, perangkat menggunakan SSD NVMe berkapasitas 512GB yang masih dapat dilengkapi melalui slot microSD. Valve juga menyertakan konektivitas Wi-Fi 6E, Bluetooth 5.3, serta Gigabit Ethernet.
Steam Machine turut memiliki adapter nirkabel terintegrasi yang mendukung penggunaan Steam Controller. Seluruh komponen tersebut dikemas dalam bodi berbentuk kubus dengan ukuran sekitar enam inci.
Melalui spesifikasi tersebut, Valve berupaya menghadirkan pengalaman bermain game PC dalam bentuk perangkat yang lebih ringkas dan praktis digunakan di ruang keluarga.
Valve Gunakan Sistem Reservasi Berbeda untuk Pemesanan Awal
Valve menerapkan mekanisme pemesanan yang berbeda dibandingkan peluncuran perangkat sebelumnya. Perusahaan tidak langsung membuka pre-order bagi seluruh calon pembeli.
Sebagai gantinya, pengguna diminta mendaftarkan diri melalui situs resmi Valve sebelum batas waktu yang telah ditentukan. Setelah periode pendaftaran berakhir, seluruh peserta akan diacak untuk menentukan siapa yang memperoleh kesempatan membeli pada gelombang pertama.
Valve kemudian akan mengirimkan email kepada pengguna yang terpilih. Sistem tersebut diterapkan untuk mengatur distribusi awal perangkat sekaligus mengurangi potensi penimbunan stok oleh pihak tertentu.
Pendekatan ini berbeda dari sistem pemesanan konvensional yang umumnya menggunakan prinsip siapa cepat dia dapat. Valve berharap metode tersebut memberikan kesempatan yang lebih merata bagi calon pembeli.
“Baca Juga: Redmi 17C Resmi Hadir, Andalkan Chip Helio G81″
Valve Akui Harga Tinggi Dipengaruhi Kenaikan Biaya Komponen
Dalam wawancara bersama Eurogamer, engineer Valve, Yazan Aldehayyat, mengakui bahwa harga akhir Steam Machine lebih tinggi dibandingkan perkiraan awal perusahaan. Menurutnya, Valve memang belum pernah menetapkan target harga pasti sejak awal pengembangan perangkat.
Ia menjelaskan bahwa kondisi pasar perangkat keras mengalami banyak perubahan selama proses pengembangan berlangsung. Akibatnya, biaya produksi meningkat sehingga berdampak langsung pada harga jual.
Situasi tersebut juga sejalan dengan kenaikan harga Steam Deck yang sebelumnya mengalami peningkatan sekitar 40 persen. Perubahan harga menunjukkan bahwa Valve turut merasakan dampak dari meningkatnya biaya komponen di industri perangkat keras.
Kondisi ini mencerminkan tantangan yang sedang dihadapi banyak produsen teknologi. Perusahaan harus menentukan apakah akan menanggung sebagian biaya produksi atau membebankan kenaikan tersebut kepada konsumen.
Melalui Steam Machine, Valve tampaknya memilih mempertahankan margin produksi dengan menetapkan harga yang lebih tinggi. Kini, perhatian pasar akan tertuju pada bagaimana respons konsumen terhadap perangkat premium tersebut setelah resmi tersedia dan apakah spesifikasi yang ditawarkan mampu membenarkan harga yang mencapai lebih dari US$1.000.





Leave a Reply