mathaijoseph – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menegaskan bahwa pelindungan anak di ruang digital harus menjadi prioritas nasional. Mengingat jumlah anak yang semakin banyak terhubung ke internet. Namun literasi digital yang rendah, Komdigi memandang hal ini sebagai isu yang mendesak. Menurut data terbaru, setiap 0,5 detik satu anak Indonesia mengakses internet. Namun, tingkat literasi digital keluarga masih tertinggal, sehingga memunculkan potensi risiko yang mengancam keselamatan anak-anak di dunia maya.
“Baca Juga: Tim Cook Siap Mundur dari CEO Apple, Penerus Akan Diumumkan Januari”
Sekretaris Direktorat Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kominfo, Mediodecci Lustarini. Mengungkapkan bahwa anak-anak Indonesia semakin cepat mengakses internet dibandingkan orang tua mereka yang belum sepenuhnya memahami risiko yang ada. Mediodecci menegaskan, pelindungan anak di dunia digital bukan hanya soal teknologi. Tetapi soal keselamatan anak dalam menghadapi risiko yang muncul, seperti perundungan siber. Eksploitasi seksual, dan konten ekstrem.
Temuan Mencemaskan Tentang Penggunaan Internet oleh Anak
Beberapa temuan penting yang dipaparkan dalam acara Indonesiagoid Menyapa pada Festival KIM 2025 menunjukkan data yang mencemaskan. Sebanyak 75% anak usia 7–17 tahun menghabiskan 5 hingga 7 jam per hari di internet. Di sisi lain, meski 70% orang tua memiliki aturan penggunaan gawai, hanya 20% anak yang mematuhinya. Lebih mengkhawatirkan lagi, hanya 37,5% anak yang pernah mendapatkan edukasi mengenai keamanan digital.
“Jarak antara pemahaman orang tua dan perilaku anak membuat mereka rentan terhadap bahaya dunia maya,” ujar Mediodecci. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peningkatan literasi digital dan pengawasan dari berbagai pihak untuk melindungi anak-anak.
Peraturan Pemerintah TUNAS Menjadi Langkah Krusial dalam Perlindungan Anak
Mediodecci juga menyoroti bahwa penerapan Peraturan Pemerintah tentang Pelindungan Anak di Ruang Digital (PP TUNAS) merupakan langkah penting dalam memperkuat hak dan keselamatan anak-anak di ruang digital. Namun, keberhasilan regulasi ini sangat bergantung pada kerjasama lintas sektor, baik itu pemerintah, masyarakat, maupun platform digital.
PP TUNAS bertujuan untuk memperbaiki ekosistem digital dengan empat elemen penting: peningkatan sistem pelaporan konten merugikan, desain platform yang aman, edukasi literasi digital keluarga, dan keterlibatan komunitas. Mediodecci menekankan, regulasi ini harus diwujudkan dalam praktik sehari-hari, tidak hanya sekadar sebagai dokumen.
Peran Kelompok Informasi Masyarakat dalam Pelaksanaan PP TUNAS
Dalam diskusi yang sama, Taofiq Rauf, Ketua Tim Pengelolaan Portal Informasi Publik Komdigi, menekankan peran Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) sebagai agen perubahan dalam mendukung pelindungan anak di dunia digital. KIM berperan penting dalam menyebarkan informasi yang bermanfaat kepada masyarakat, terutama keluarga dan guru, agar mereka dapat lebih memahami regulasi dan risiko yang ada.
Taofiq juga mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam ruang digital saat ini adalah terlalu banyak orang baik yang memilih diam, bukan berpartisipasi aktif dalam menciptakan narasi positif. “Ruang digital akan sehat jika warga berani menuliskan hal-hal baik, membagikan informasi bermanfaat, dan tidak sekadar menjadi konsumen pasif,” tegas Taofiq.
AI dan Teknologi Digital Lainnya: Ancaman dan Peluang
Di sisi lain, praktisi teknologi dan arsitektur AI, Erry Farid, menjelaskan bahwa perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), membawa tantangan baru. Saat ini, lebih dari 2 juta model dan aplikasi AI telah beredar secara global. Teknologi seperti deepfake, face swap, dan otomatisasi konten bisa disalahgunakan untuk merugikan anak-anak jika tidak ada pengawasan yang memadai.
Namun, Erry menekankan bahwa AI seharusnya dilihat sebagai alat yang dapat memberikan manfaat, bukan ancaman. Oleh karena itu, literasi digital masyarakat perlu ditingkatkan agar publik bisa menjadi pengarah teknologi, bukan korban dari penyalahgunaannya. Pengawasan dan regulasi yang ketat diperlukan untuk memastikan bahwa teknologi digunakan dengan bijak dan bertanggung jawab.
“Baca Juga: AliBaba Luncurkan Quark AI Glasses S1, Kacamata Pintar Pertama”
Menyongsong Masa Depan yang Lebih Aman di Dunia Digital
Secara keseluruhan, perlindungan anak di dunia digital membutuhkan upaya bersama antara pemerintah, masyarakat, keluarga, dan sektor swasta. Dengan semakin masifnya akses digital, terutama bagi anak-anak, kesadaran akan pentingnya literasi digital dan pengawasan yang ketat menjadi sangat krusial. Kolaborasi lintas sektor yang melibatkan berbagai elemen, termasuk peran aktif dari Kelompok Informasi Masyarakat (KIM), akan sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan PP TUNAS.
Ke depan, Indonesia perlu terus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya keselamatan anak di dunia maya, serta memperkuat regulasi dan sistem yang mendukung pelindungan tersebut. Sebagai negara dengan populasi digital muda terbesar, Indonesia harus mengambil langkah tegas untuk memastikan ruang digital yang aman dan sehat bagi generasi masa depan.





Leave a Reply