mathaijoseph – OpenAI tengah membuka lowongan kerja baru untuk posisi Head of Preparedness atau Kepala Kesiapsiagaan. Sebuah jabatan strategis yang dirancang untuk mengantisipasi berbagai risiko dari perkembangan kecerdasan buatan yang semakin pesat. Posisi ini bertugas memikirkan dan mengidentifikasi semua kemungkinan cara AI dapat berjalan keliru. Sebelum dampaknya meluas dan menimbulkan kerugian serius bagi masyarakat.
“Baca Juga: Kurang 2 Tahun, Penjualan BYD di RI Capai 55 Ribu”
Tanggung Jawab Kepala Kesiapsiagaan AI
Pengumuman lowongan tersebut disampaikan langsung oleh CEO OpenAI, Sam Altman, melalui unggahan di platform X. Dalam pernyataannya, Altman mengakui bahwa kemajuan pesat model AI membawa “beberapa tantangan nyata” yang tidak bisa diabaikan. Ia secara khusus menyoroti potensi dampak terhadap kesehatan mental publik serta risiko keamanan siber, termasuk kemungkinan penyalahgunaan AI sebagai senjata digital.
Dalam deskripsi lowongan, OpenAI menegaskan bahwa kandidat terpilih harus mampu melacak dan mempersiapkan diri menghadapi kemampuan mutakhir AI yang berpotensi menciptakan risiko baru berupa bahaya serius. Selain itu, Kepala Kesiapsiagaan akan menjadi pemimpin utama dalam membangun dan mengoordinasikan evaluasi kemampuan, pemodelan ancaman, serta strategi mitigasi yang membentuk alur kerja keselamatan AI yang koheren, ketat, dan dapat diskalakan secara operasional.
Posisi ini juga bertanggung jawab menjalankan kerangka kesiapan OpenAI, mengamankan model AI sebelum peluncuran kemampuan yang sensitif, termasuk yang berkaitan dengan aspek biologis, serta menetapkan batasan untuk sistem AI yang memiliki kemampuan belajar mandiri. Dengan kata lain, jabatan ini berada di garis depan upaya OpenAI untuk mencegah dampak terburuk dari teknologi yang mereka kembangkan.
Gugatan Hukum dan Sorotan Dampak Kesehatan Mental
Langkah OpenAI membuka posisi ini tidak lepas dari meningkatnya tekanan publik dan hukum. Dalam beberapa waktu terakhir, perusahaan di balik ChatGPT tersebut diterpa gelombang gugatan hukum di Amerika Serikat. Sejumlah keluarga menuding ChatGPT berperan dalam kematian remaja hingga orang dewasa, terutama terkait kasus bunuh diri.
Salah satu kasus yang paling banyak disorot adalah Zane Shamblin, lulusan master berusia 23 tahun dari Texas A&M University. Pada dini hari 25 Juli 2024, Zane ditemukan tewas akibat bunuh diri di dalam mobilnya. Dalam dokumen gugatan, terungkap bahwa di detik-detik terakhir hidupnya, Zane tidak menghubungi keluarga atau teman, melainkan berkomunikasi dengan ChatGPT. Transkrip percakapan tersebut menunjukkan respons chatbot yang dinilai seolah memvalidasi tindakannya.
Kasus serupa juga menimpa Adam Raine, remaja 16 tahun asal California yang meninggal pada April. Orang tuanya menggugat OpenAI dan Sam Altman pada Agustus 2024. Dalam kesaksian di hadapan Kongres AS, ayah Adam menggambarkan bagaimana ChatGPT perlahan menggantikan peran keluarga dalam kehidupan anaknya. Ia menyebut bahwa ChatGPT berubah dari alat bantu pekerjaan rumah menjadi teman curhat, hingga akhirnya berperan sebagai pendorong tindakan bunuh diri.
Dalam gugatan tersebut, ChatGPT dituduh memberikan instruksi rinci tentang cara mengikat tali gantungan dan bahkan membantu menyusun surat bunuh diri. Respons chatbot yang mendorong kerahasiaan rencana tersebut menjadi salah satu poin utama dalam tuduhan terhadap OpenAI.
“Baca Juga: Serangan Hacker Kembali Hantam Ubisoft Setelah Insiden R6S”
Daftar Kasus dan Data Internal yang Mengkhawatirkan
Selain Zane dan Adam, sejumlah nama lain juga tercantum dalam gugatan hukum terkait dampak fatal interaksi dengan chatbot. Di antaranya Amaurie Lacey, remaja 17 tahun asal Georgia, serta Joshua Enneking, pria 26 tahun dari Florida yang sempat menanyakan kepada chatbot berapa lama rencana bunuh diri akan dilaporkan ke polisi. Korban lain, Joe Ceccanti dari Oregon, juga dilaporkan mengalami perubahan perilaku drastis sebelum akhirnya meninggal dunia.
Tak hanya berujung pada kematian, beberapa kasus juga melaporkan delusi berbahaya dan gangguan mental berat setelah interaksi intens dengan AI. Hannah Madden dari North Carolina, Jacob Irwin dari Wisconsin, dan Allan Brooks menjadi bagian dari daftar individu yang mengalami kerusakan psikologis serius.
Data internal OpenAI sendiri memperkuat kekhawatiran tersebut. Dalam pernyataan resminya pada akhir Oktober, ChatGPT mengungkap bahwa sekitar 0,15 persen penggunanya terlibat dalam percakapan yang mengindikasikan perencanaan bunuh diri. Dengan basis sekitar 800 juta pengguna mingguan, angka ini setara dengan kurang lebih 1,2 juta orang. Fakta inilah yang membuat posisi Head of Preparedness menjadi semakin krusial dalam upaya OpenAI menyeimbangkan inovasi teknologi dengan keselamatan publik.





Leave a Reply