mathaijoseph –Beberapa tahun terakhir menjadi periode perubahan terbesar dalam sejarah Xbox. Microsoft melakukan berbagai langkah agresif untuk memperkuat bisnis gaming mereka, mulai dari akuisisi Activision Blizzard, ekspansi layanan Game Pass, pengembangan cloud gaming, hingga strategi multiplatform yang semakin luas. Perusahaan bahkan melakukan pergantian kepemimpinan dengan menunjuk Asha Sharma sebagai CEO baru Xbox. Namun, transformasi besar tersebut tampaknya tidak berjalan tanpa konsekuensi. Laporan terbaru menyebut Xbox kini tengah bersiap melakukan pemutusan hubungan kerja atau PHK dalam skala besar setelah tahun fiskal Microsoft berakhir pada Juni 2026. Langkah ini disebut menjadi bagian dari evaluasi menyeluruh terhadap arah bisnis dan prioritas investasi perusahaan untuk beberapa tahun mendatang.
“Baca Juga: Restrukturisasi Baru Ubisoft Ancam 380 Posisi Karyawan”
Bloomberg Sebut PHK Akan Dilakukan Setelah Tahun Fiskal Berakhir
Menurut laporan Bloomberg, Xbox diperkirakan akan melakukan gelombang PHK baru pada Juli 2026. Hingga saat ini belum ada informasi resmi mengenai jumlah karyawan yang akan terdampak oleh keputusan tersebut.
Laporan itu menyebut bahwa proses pengurangan tenaga kerja baru akan dilakukan setelah tahun fiskal Microsoft berakhir pada 30 Juni 2026. Selain melakukan PHK, perusahaan juga dikabarkan akan memangkas anggaran pemasaran serta melakukan efisiensi di sejumlah area bisnis lainnya.
Bloomberg juga mengungkap adanya memo internal yang dikirim oleh CEO Xbox, Asha Sharma, kepada para karyawan. Dalam memo tersebut, Sharma menjelaskan bahwa salah satu indikator kinerja bisnis Xbox mengalami penurunan.
Ia menyebut bahwa “accountability margin” Xbox turun sekitar tiga persen. Menurut jurnalis Bloomberg, Jason Schreier, metrik tersebut digunakan Microsoft untuk mengukur margin keuntungan keseluruhan dari bisnis yang mereka jalankan.
Penurunan tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong perusahaan untuk melakukan evaluasi besar terhadap strategi yang telah dijalankan selama beberapa tahun terakhir.
Xbox Disebut Telah Menghabiskan Lebih dari 20 Miliar Dolar AS
Dalam memo internal yang sama, Sharma juga mengungkap besarnya investasi yang telah dilakukan Xbox selama lima tahun terakhir.
Menurutnya, divisi gaming Microsoft telah menghabiskan lebih dari 20 miliar dolar AS untuk mendukung berbagai inisiatif. Angka tersebut mencakup investasi pada konten, pengembangan platform, subsidi perangkat keras, dan berbagai strategi bisnis lainnya.
Menariknya, nilai tersebut belum termasuk biaya akuisisi Activision Blizzard yang menjadi salah satu transaksi terbesar dalam sejarah industri game.
Namun, di balik investasi yang sangat besar itu, performa bisnis Xbox justru disebut belum menunjukkan hasil yang sepenuhnya memuaskan. Sharma mengungkap bahwa pendapatan tahunan divisi gaming Microsoft mengalami penurunan hampir 500 juta dolar AS dalam periode yang sama.
Kondisi tersebut membuat perusahaan mulai mempertanyakan efektivitas strategi ekspansi yang selama ini dijalankan. Xbox dinilai telah berkembang sangat cepat, tetapi belum mampu mengoptimalkan seluruh investasi yang telah dilakukan.
Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Microsoft yang selama beberapa tahun terakhir berusaha memperkuat posisinya di industri game melalui berbagai langkah besar.
Asha Sharma Nilai Xbox Terlalu Luas dan Perlu Fokus Baru
Menurut Sharma, kondisi bisnis saat ini tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Ia menjelaskan bahwa Xbox sebelumnya memperluas jaringan studio dan investasi untuk mendukung berbagai strategi secara bersamaan.
Mulai dari pengembangan Game Pass, cloud gaming, ekspansi perangkat keras, hingga kerja sama dengan berbagai studio dilakukan secara agresif demi memperkuat ekosistem Xbox.
Namun, perubahan tren industri membuat pendekatan tersebut perlu dievaluasi kembali. Sharma menilai Xbox kini memiliki terlalu banyak fokus dan belum mampu mengalokasikan investasi secara optimal pada area-area yang paling menjanjikan.
Ia juga menyoroti bahwa Xbox sebenarnya memiliki sejumlah franchise besar yang berpotensi menjadi pemimpin pasar. Sayangnya, menurut Sharma, beberapa waralaba tersebut belum memperoleh dukungan investasi yang cukup untuk berkembang secara maksimal.
Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa Microsoft kemungkinan akan lebih selektif dalam menentukan proyek dan studio yang menjadi prioritas di masa depan.
Fokus baru ini diharapkan dapat membantu Xbox meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat posisi mereka di tengah persaingan industri game yang semakin ketat.
“Baca Juga: FFVII Remake Seri Ketiga Belum Punya Tanggal Rilis”
Xbox Masuki Fase Penyesuaian Setelah Bertahun-tahun Berekspansi
Laporan mengenai PHK massal ini memperlihatkan bahwa Xbox sedang memasuki fase penyesuaian besar setelah bertahun-tahun melakukan ekspansi agresif. Akuisisi besar, pertumbuhan jumlah studio, serta investasi pada berbagai layanan ternyata membawa tantangan yang tidak kecil bagi perusahaan.
Meski demikian, Asha Sharma menegaskan bahwa beberapa elemen penting tetap akan menjadi prioritas Xbox. Ia menyebut game eksklusif first party, kerja sama dengan studio third party, serta pengembangan IP baru masih akan memainkan peran penting dalam masa depan platform tersebut.
Namun, perusahaan tampaknya kini harus menentukan ulang prioritas investasi mereka untuk lima tahun ke depan. Microsoft perlu memastikan bahwa sumber daya yang dimiliki dapat digunakan secara lebih efektif dan memberikan dampak yang nyata bagi pertumbuhan bisnis.
Hingga saat ini, Xbox belum memberikan pernyataan resmi mengenai jumlah karyawan yang akan terdampak ataupun rincian restrukturisasi yang akan dilakukan. Akan tetapi, jika laporan Bloomberg terbukti akurat, maka Juli 2026 berpotensi menjadi salah satu periode paling penting sekaligus paling sulit dalam perjalanan Xbox modern.
Di tengah perubahan besar yang sedang berlangsung, keputusan yang diambil Microsoft dalam beberapa bulan mendatang kemungkinan akan menentukan arah Xbox untuk satu dekade berikutnya.





Leave a Reply