Pengakuan Internasional Bagi Geopark Toba
mathaijoseph.com – UNESCO kembali menetapkan Geopark Caldera Toba sebagai pemegang green card atau kartu hijau. Keputusan ini diambil pada sidang UNESCO Global Geoparks Council di Chile, 5–6 September 2025. Status ini menandakan perpanjangan pengakuan Geopark Toba sebagai bagian dari jaringan Geopark Global UNESCO selama empat tahun ke depan.
Perbedaan Green Card dan Yellow Card
Dalam mekanisme UNESCO, green card menegaskan kelayakan sebuah geopark dalam pengelolaan kawasan dan konservasi. Kartu hijau memberi perpanjangan status hingga empat tahun. Sebaliknya, yellow card hanya memperpanjang selama dua tahun. Yellow card sekaligus menjadi tanda peringatan agar geopark segera memperbaiki tata kelola sesuai rekomendasi UNESCO.
Baca Juga : “Gerald Vanenburg Beberkan Faktor Paling Ditakuti dari Korea Selatan“
Proses Evaluasi Lapangan
Tim evaluator UNESCO yang dipimpin Prof. Dr. Jose Rodrigues Brilha dari Portugal dan Prof. Dr. Jeon Young Mun dari Korea Selatan melakukan asesmen langsung di kawasan Danau Toba. Hasil evaluasi menyatakan bahwa tata kelola Geopark Caldera Toba telah memenuhi standar internasional. Laporan ini menjadi dasar pemberian kembali status green card kepada Toba.
Dampak bagi Geopark Toba
Dengan status green card, Geopark Toba akan direvalidasi kembali empat tahun mendatang. Revalidasi dilakukan untuk memastikan kualitas pengelolaan kawasan tetap sesuai standar UNESCO. Status ini juga membuka peluang bagi Toba untuk meningkatkan kerja sama internasional dalam bidang konservasi, pariwisata berkelanjutan, dan pendidikan geologi.
Dukungan DPR RI
Anggota Komisi VII DPR RI, Bane Raja Manalu, menyambut positif keputusan ini. Ia menegaskan bahwa pencapaian tersebut merupakan hasil kerja keras banyak pihak. Menurutnya, green card bukan sekadar penghargaan, melainkan tanggung jawab bersama untuk menjaga ekosistem Danau Toba.
Pentingnya Zonasi Kawasan
Bane menekankan pentingnya penerapan zonasi dalam pengelolaan Geopark Toba. Zona edukasi dan penelitian perlu dipisahkan dari zona wisata massal. Dengan demikian, keanekaragaman hayati tetap terjaga, sementara manfaat ekonomi juga bisa dirasakan masyarakat sekitar.
Keterlibatan Masyarakat Lokal
Pelibatan masyarakat dinilai sangat penting dalam menjaga kelestarian kawasan. Menurut Bane, penduduk lokal harus disiapkan agar aktif terlibat dalam pengembangan Geopark Toba. Keterlibatan itu dapat berupa partisipasi dalam pengelolaan geosite, usaha wisata ramah lingkungan, hingga kegiatan edukasi.
Temuan di Lapangan
Meski status green card telah diperoleh, Bane mengungkap masih ada geosite yang belum memenuhi standar UNESCO. Beberapa lokasi yang disebutkan antara lain Geosite Desa Meat di Balige, Geosite Haranggaol di Simalungun, serta Geosite Tipang di Humbang Hasundutan. Hal ini menunjukkan perlunya tindak lanjut segera dari pengelola.
Harapan ke Depan
Bane menegaskan bahwa penghargaan green card harus diikuti dengan peningkatan nyata. Ia menilai bahwa pemerintah, pengelola geopark, dan masyarakat harus berkolaborasi. Tujuannya agar pengakuan internasional ini bukan sekadar simbol, tetapi benar-benar memberi manfaat untuk ekosistem dan kesejahteraan masyarakat.
Penutup
Pengakuan green card dari UNESCO menjadi momentum penting bagi Geopark Toba. Selain menjaga reputasi di tingkat internasional, status ini juga membuka peluang besar untuk pengembangan wisata berkelanjutan, konservasi lingkungan, dan peningkatan ekonomi masyarakat lokal. Ke depan, tantangan terbesar adalah memastikan bahwa standar UNESCO dijalankan secara konsisten di seluruh geosite kawasan Danau Toba.
Baca Juga : “Reshuffle Kabinet Tepat, Publik Dorong Perubahan“





Leave a Reply